Jakarta, CNN Indonesia — Jumat pagi, 22 Desember 2017, menjadi hari yang tak terlupakan bagi Rosyid (48), sopir angkutan kota (Angkot) 08A rute Tanah Abang-Kota yang tiap hari lalu lalang di sekitar Tanah Abang.

Pukul 06.00 WIB, dia sudah bangun dari tidurnya. Dari kontrakannya di wilayah Petamburan 2, Jakarta Pusat, ia sudah bersiap untuk ‘narik’ angkot 08A yang dia sewa dari juragan dengan sistem setoran.

Ia sudah mengenakan seragam resmi pengendara angkot berwarna biru muda. Seragam resmi itu dia dapat dari sesama rekan pengemudi angkot.

Saat itu istrinya, Asti baru pulang berbelanja di pasar tradisional dekat rumahnya. Ia membelikan Rosyid sarapan nasi uduk untuk disantap sebelum bekerja.

Usai makan, ia lantas memanaskan mesin mobil angkotnya. Tak ada perasaan maupun firasat yang tebersit dalam benaknya. Hari itu tampak biasa saja. Ia berharap berjalan semestinya.

Waktu sudah menunjukan jam 07.30 WIB. Pesan singkat dari rekan sesama pengemudi angkot 08A masuk saat Rosyid memanaskan mesin angkot.

“Jalan Jati Baru Raya ditutup, kita enggak bisa lewat depan stasiun,” begitu isi SMS dari rekan Rosyid pagi itu.

Rosyid tak tahu ada kejadian apa di Jalan Jati Baru Tanah Abang sehingga dibuatnya ditutup.

Ia membalas SMS rekannya itu singkat, “Ada apa?”

Namun tak ada balasan dari rekannya tersebut.

Dia meletakkan handphone-nya di saku, dan meninggalkan kontrakannya dengan rasa penasaran.

Cerita Sopir Angkot Tanah Abang Morat-Marit Kejar SetoranRosyid, salah satu supir angkot 08A Rute Tanah Abang Kota. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)

Jumat itu rupanya harus dilewatkan Rosyid dengan kenyataan bahwa Jalan Jati Baru Tanah Abang ditutup oleh Pemprov DKI Jakarta untuk seterusnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan langsung menata kawasan Tanah Abang, salah satunya dengan menutup jalan Jati Baru di depan Stasiun Tanah Abang.

Jalan Jati Baru itu merupakan rute resmi angkot 08A yang dikendarai Rosyid sebelum akhirnya ditutup Anies-Sandi.

Ketika Rosyid tiba di Jalan Jati Baru, tepatnya di bawah Flyover, ia lantas kebingungan. Pria yang sudah lalu lalang dengan angkot 08A sejak 12 tahun lalu itu terheran-heran melihat jalan itu ditutup.

Lantas ia bertanya kepada petugas Dinas Perhubungan yang berjaga di ujung jalan yang ditutup tersebut.

“Kenapa nih mas ditutup?” Kata Rosyid sambil turun dari mobilnya.

“Ada penataan pasar mas, jadi angkot harus berputar, ada jalur baru,” kata petugas itu.

“Loh kok mendadak? Kita enggak dikasih tahu sebelumnya soal ini,” kata Rosyid.

Rosyid kebingungan. Ia mengaku tak diberitahu oleh Pemprov DKI Jakarta soal rencana penutupan itu. Begitu pula dengan rekan-rekannya yang lain.

“Saat hari pertama penutupan saya tak diberi tahu, kami semua supir tak diajak berdialog,” ujar Rosyid saat ditemui CNN Indonesia.com di Jalan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (22/1).

Cerita Sopir Angkot Tanah Abang Morat-Marit Kejar SetoranKondisi ruas jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Tepat di hari pertama penutupan jalan itu, omzet atau pendapatan Rosyid turun drastis ketimbang sebelum jalan ditutup.

Saat itu, hari sudah menjelang sore namun Rosyid baru mendapat uang Rp60.000 dari hasil ‘tarikannya’ sejak jam 08.00 WIB pagi. Pendapatannya turun drastis. Setoran per hari Rp150 ribu tak bisa ia genapi.

Rosyid masih berpikir penurunan omzet hanya terjadi pada hari itu saja. Ia mencoba berpikir positif esok hari lain cerita.

Namun, harapannya pupus. Tepat hari kedua penutupan Jalan Jati Baru hingga saat ini, omzetnya tetap sama. Kadang ia mendapat Rp50.000 saja saat sedang sepi, kadang kalau penumpang ramai mendapat Rp100.000.

“Rata-rata omzet turun 70 persen mas, dulu kami bisa dapat Rp350 ribu sehari, itu sudah setoran ke juragan dan bisa buat makan kami,” kata Rosyid. “Kami sering berhutang sana-sini buat nutup ini, kami sudah susah ditambah susah,” tambahnya.

Rosyid mengaku Jalan Jati Baru merupakan titik vital dalam proses naik-turunnya penumpang angkot 08A. Pasalnya, di jalan tersebut berdiri Stasiun Tanah Abang yang kerap ramai oleh calon penumpang tiap harinya.

Pada 8 Januari 2018 lalu, Wagub Sandiaga Uno pernah mencatat data bahwa sebelum ada penataan di Jalan Jati Baru, ada sebanyak 130.000 pengguna jasa KRL yang naik turun di Stasiun Tanah Abang.

“Dulu kan penumpang naik angkot kita banyak, keluar stasiun langsung naik angkot, praktis, sekarang kan kalau mau naik angkot jalannya jauh,” ujar Rosyid.

Melihat kondisi ekonominya morat-marit akibat kebijakan itu, ia mendesak menuntut Pemprov DKI kembali membuka jalur Jatibaru, Tanah Abang yang ditutup.

“Kami minta dibuka lagi dong, itu jalan kan mata pencaharian kami, kok malah dibuat dagang,” ujarnya.

Cerita Sopir Angkot Tanah Abang Morat-Marit Kejar SetoranOkun, salah satu supir angkot 08A Rute Tanah Abang-Kota (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)

Rosyid tak sendirian, Okun (54) juga bernasib serupa. Pengemudi angkot 08A itu juga mengaku omzetnya menurun drastis sejak jalan Jati Baru ditutup.

Okun yang sudah menjadi supir angkot 08A sejak tahun 1974 itu mengaku omzetnya rata-rata turun hingga 60-70 persen.

“Dulu nih kan stasiun (Tanah Abang) kan ramai, bisa sehari sampai Rp300 ribu-Rp400 ribu. Sekarang mah boro-boro, Rp100 ribu saja jarang,” ungkap Okun.

Ia sendiri mengaku heran, sopir angkot tak dilibatkan oleh pemerintah DKI dalam kebijakan penutupan Jalan Jati Baru.

Boro-boro dikasih tahu, enggak ada namanya kami dilibatin kebijakan gitu,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa Anies-Sandi membuat orang kecil seperti dirinya merasa semakin tertindas akibat kebijakan tersebut.

“Makan dulu cukup, sekarang kita mikir, utang dimana-mana, semakin tertindas kita ini,” ujarnya.

Okun dan kawan-kawan sesama supir angkot 08A meminta Anies-Sandi bertanggung jawab atas nasib pengemudi angkot yang jalurnya kini telah diambil untuk PKL.

Ia mendesak agar jalan itu dibuka kembali seperti sedia kala agar kondisi ekonomi keluarganya tak semakin menderita dikemudian hari.

“Saya minta Anies bukalah jalan itu tadi, katanya keberpihakan, mana berpihaknya sama supir angkot, kami sudah bayar pajak, bayar KIR, dan lainnya masa ditindas,” tegasnya.

Cerita Sopir Angkot Tanah Abang Morat-Marit Kejar SetoranGubernur DKI Anies Baswedan saat memantau Tanah Abang.(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Ancaman Mogok

Baik Rosyid, Okun maupun sopir angkot lainnya mengklaim kerap mengalami tindakan represif dari petugas, baik Dishub maupun Satpol PP saat angkotnya ketahuan ngetem.

Kondisi ini membuat Rosyid dan Okun semakin serba salah dalam mengendarai angkotnya.

“Di satu sisi kita ngetem mau nunggu penumpang dari stasiun. Tapi enggak boleh ngetem. Kalau enggak boleh ngetem, jalan Jati Baru dibuka dong,” ujar Okun.

Okun bercerita saat berhenti di bawah flyover Jalan Jati Baru pasca jalan itu ditutup, angkotnya pernah diderek paksa oleh petugas Dishub.

Ia menyebut petugas Dishub tak kenal kompromi dalam menderek meski sudah memohon. Alhasil, ia harus membayar biaya derek hingga Rp500 ribu dan biaya parkir di Dishub selama dua minggu.

“Petugas itu tambah semena-mena aja sama kita, ditindas terus,” ungkapnya.

Senada dengan Okun, Rosyid bercerita kaca depan angkotnya pernah dipecahkan oleh salah satu oknum petugas Satpol PP saat angkotnya ngetem.

Rosyid yang menjadi saksi peristiwa itu terjadi terhadap angkotnya dan angkot rekan-rekan lainnya yang mengalami hal serupa.

“Jadi dipecahin, saya kena kaca depan. Saya lihat sendiri, ini harganya mahal, belum lagi angkot yang lain ada yang dipecahin spionnya,” aku Rosyid.

Cerita Sopir Angkot Tanah Abang Morat-Marit Kejar SetoranAktivitas pedagangan di Tanah Abang. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Ia sendiri heran terhadap tindakan aparat tersbeut yang semakin represif setelah penataan Tanah Abang terhadap Angkot.

Akibat pengalaman buruk yang mereka alami, sopir angkot bersepakat menggelar demonstrasi di Balaikota DKI Jakarta, Senin (22/1) kemarin pagi. Mereka pun memilih mogok karena permintaannya dan harapannya tak digubris oleh pihak Pemprov DKI.

“Kami demo karena tidak bisa apa-apa lagi, buat makan susah, terus mobil dirusak, tapi pemerintah diam saja, sudah memuncak amarah kita,” ujar Rosyid.

Berdasarkan pantauan CNN Indonesia.com di Jalan Jati Baru Raya, Senin (22/1) sore, para sopir kompak mogok beroperasi. Mereka tampak bercengkerama di jalan tersebut.

Apabila ada angkot yang masih beroperasi, para sopir angkot yang mogok meminta sopir yang masih beroperasi untuk ikut mogok juga.

“Kami mau mogok sampai tuntutan kami dikabulkan dulu sama pemerintah,” pungkas Rosyid.